222

PT PLN (PERSERO) UNIT INDUK WILAYAH BANGKA BELITUNG BEKERJASAMA DENGAN INSTITUT TEKNOLOGI PLN MENGIMPLEMENTASIKAN WASTE TO ENERGY DI PULAU TINGGI, PROVINSI BANGKA BELITUNG

Institut Teknologi PLN sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang Modern Mandiri Kompetitif dan Unggul selalu mendukung Pemerintah dalam menerapkan Waste to Energy (WTE) di Indonesia. WTE yang dilakukan disini adalah pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar alternative melalui proses peyeumisasi menjadi energi yang dapat digunakan sehari-hari.

PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Bangka Belitung melalui Unit Pelaksana Pembangkitan Bangka Belitung, bekerjasama dengan Institut Teknologi PLN Jakarta mengimplementasikan Waste to Energy di Pulau Tinggi Tobali Bangka Belitung. Tim IT-PLN bersama Tim Unit Pelaksana Pembangkitan Bangka Belitung melakukan studi dan diskusi terkait dengan data-data pendukung yang ada di Pulau Tinggi mengenai sampah dan pengolahannya, mengenai analisis kelayakan pembangkit listrik tenaga sampah yang akan diimplementasikan, perhitungan analisis teknis dan ekonomis, serta kajian sosial, kajian regulasi dan pemakaian teknologi yang akan gunakan,.

Vendy Antono, Dosen dari Fakultas Teknologi dan Bisnis Energi IT-PLN menyatakan bahwa setelah melakukan kajian, secara teknis Pembangkit Listrik Tenaga Sampah ini layak untuk diimplementasikan, dengan mengambil pelet sampah dari TPA Jungjung Besaoh di Toboali sebanyak 384 kg per hari. Pelet sampah yang sudah diangkut ke Pulau Tinggi kemudian dimasukkan ke dalam gasifier yang dapat mengubah 16 kg pelet sampah menjadi 37 m3 syngas dalam waktu 1 jam. Keluaran gas ini kemudian akan diubah menjadi energi listrik menggunakan generator set diesel (genset) berkapasitas 16 kW. Spesifikasi gasifier dan genset memungkinkan keduanya dapat beroperasi selama 24 jam.

Secara ekonomi diketahui bahwa penggunaan energi sampah sebagai sumber energi listrik masih lebih murah dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga diesel eksisting. Harga B20 di Pulau Tinggi yang saat ini digunakan untuk bahan bakar PLTD eksisting yaitu Rp 8.378,52/liter. Jika dalam 1 hari menggunakan 58 liter, sehingga biaya adalah Rp 14.578.624,-/bulan untuk listrik yang hanya tersedia pada malam hari (11 jam). Dari perhitungan, diketahui bahwa dengan mengimplementasikan pembangkit listrik tenaga sampah biaya yang diperlukan sebesar Rp18.879.968,00 per bulan untuk listrik yang menyala selama 24 jam. Selain itu, dari hasil perhitungan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik, diketahui bahwa BPP energi listrik dari sampah adalah sebesar Rp. 817,27/kWh, masih lebih murah dibandingkan harga tarif dasar listrik Rp 1.467,28, ungkap Ginas Alvianingsih Dosen Fakultas Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IT-PLN yang bersama tim mengimplementasikan di lapangan.

Disamping tersebut di atas, menurut R. Sapto Yuwono Manager Lembaga Terapan IT-PLN yang menjadi Koordinator Kegiatan ini menyampaikan bahwa ada beberapa kendala di Lapangan yaitu tantangan untuk mendapatkan pelet sampah, perlu kesadaran masyarakat akan perlunya mengolah sampah. Menurut Sapto, harus ada kolaborasi dengan pemerintahan setempat untuk membuat program Bersama dalam pengelolaan sampah. Instansi pemerintahan memiliki andil yang besar untuk menghimbau masyarakat agar membuat program bank sampah, memilah sampah, dan menjual sampahnya, dengan kebijakan pengumpulan (dan penanganannya) ditentukan di tingkat Kabupaten (Bangka Selatan) agar tercapai target harian yaitu pelet sampah sebanyak 384 kg, pungkasnya.

Faktor regulasipun menjadi sangat penting, dengan mempelajari peraturan- peraturan yang terkait dengan penggunaan gas alam sebagai pembangkit listrik pada skala rumah tangga. Peraturan-peraturan tersebut mencakup Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, dan Keputusan Direksi PLN dan dinyatakan bahwa pembangkit listrik tenaga sampah ini layak untuk diimplementasikan.

Setelah melakukan persiapan yang cukup tim IT-PLN dan PLN UPP Babel melakukan proses uji coba pada hari Sabtu tanggal 18 Juli 2020. “Alhamdulillah akhirnya uji coba berjalan baik dan lancar dan akan segera dilakukan komisioning test beberapa hari kedepan”, ungkap Abdul Mukhlis, GM PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Bangka Belitung yang menyaksikan uji coba tersebut. Mukhlis berharap kesuksesan ini dapat diimplementasikan di Pulau-pulau sekitar yang saat ini masih menggunakan bahan bakar solar untuk mengaliri listrik warga.