Mahasiswa STT PLN Terpilih Sebagai Delegasi Indonesia dalam ASIAN YOUTH FORUM 15 di Taipei, Taiwan

Asian Youth Forum 15 mendorong Generasi Muda untuk berfikir kritis dan berdiskusi secara Intelektual mengenai peran aktif pemuda Asia terhadap perkembangan global di abad ke-21.

Belum lama berlalu, Asian Youth Forum (AYF) ke-15 baru saja digelar di Taipei, Taiwan, tepatnya pada tanggal 8 November – 15 November 2016, dengan mengusung tema “Developing Leaders For 21st Century”.

Asian Youth Forum (AYF) sendiri merupakan program tahunan yang merangkul pemuda-pemudi di Asia untuk bersama-sama mengikuti seminar akademis, workshop intercultural, konferensi Internasional, acara sosial, dan pertukaran interpersonal. Tujuan penyelenggaraan acara ini adalah untuk mempromosikan pemahaman Internasional, kepekaan pada Asia, komunikasi antarkultur, kemampuan kepemimpinan melalui bahasa Inggris sebagai bahasa global, dan menanamkan tanggung jawab sosial. Konferensi tahunan pemuda tingkat Asia yang telah berlangsung sejak 1999 ini, dihadiri oleh 13 Advisors serta 56 delegasi dari negara-negara di Asia, termasuk Indonesia dengan dua perwakilannya, yakni Catur Surya Dharma Suryana (20) yang merupakan Mahasiswa jurusan S1 Teknik Elektro, Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT-PLN) Jakarta, dan Kemas Bobby Adhitya Pratama (21), mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Konferensi pemuda yang diadakan selang

beberapa hari dari peringatan Sumpah pemuda dan bertepatan dengan hari Pahlawan RI ini, menjadi penyegaran dan pengingat bagi kaum muda Indonesia, untuk menjaga dan menjalin persatuan tidak hanya dengan sesama pemuda Indonesia namun juga pemuda-pemudi lintas negara khususnya di Asia serta membangun kerjasama dalam mendukung perdamaian dunia.

Kip A. Cates, AYF Chair and Founder, menyatakan “AYF 15 menyediakan ruang untuk berdiskusi mengenai permasalahan social dan isu global yang dihadapi Asia dan dunia. Sebagai Pemuda Asia abad 21, generasi muda memiliki tantangan dalam mengatasi berbagai isu seperti kemiskinan, polusi, kesetaraan gender, konflik SARA, dan isu global lainnya yang mengusik perdamaian dunia. Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dibutuhkan kerjasama Internasional. Hal tersebut dapat dimulai disini di Asian Youth Forum.

“Melalui program ini, seluruh pemuda dari berbagai negara dapat bertukar pikiran mengenai apa yang dapat kami lakukan bersama untuk saat ini dan kedepannya dalam menjembatani persoalan kebodohan, prasangka, dan kecurigaan yang sering menjadi tembok pembatas bagi perdamaian dan kesatuan masyarakat di Asia dan antar negara di dunia”, ungkap Catur Surya Dharma S.

AYF 15 tahun ini juga berkesempatan menjadi bagian dari “The 25th International Symposium on English Teaching” yang diselenggarakan oleh PAC (Pan-Asian Consortium). PAC sendiri beranggotakan beberapa negara seperti Thailand (Thai TESOL), Japan (JALT), Korea (KoTESOL), Russia (FEELTA), Philippines (PALT), Bangladesh (BELTA), dan Taiwan (ETA-ROC). Dimana pada sesi ini para delegasi

berkesempatan mempresentasikan beberapa topic kepada para professor dari berbagai negara yang hadir, diantaranya mengenai “Culture, Communication and Inter-Asian Understanding”, dan “Language Learning in Asia : The Student’s View”.

Selain itu para delagasi juga berdiskusi dan saling belajar mengenai Society, History, Religion, Lifestyle, customs dan keunikan tiap negara, dimana setiap delegasi juga mempresentasikan mengenai negaranya masing-masing dan menampilkan kesenian tradisional. Topic yang menjadi point utama dalam berbagai sesi diskusi selama program ini yaitu mengenai War and Peace, Poverty, Human Right, Global Warming, Terrorism serta solusi dan action plan yang dapat dilakukan di negara masing-masing pasca AYF. Tak hanya itu, Leadership skills menjadi salah satu point yang tak terlewatkan dalam AYF 15 ini, dengan harapan bahwa delegasi yang hadir sebagai representative dari negaranya masing-masing akan mennjadi pemimpin yang dapat melahirkan dan mendidik pemimpin-pemimpin baru nantinya.

Persatuan dan keberagaman merupakan pesan yang disampaikan dalam AYF 15. Untuk itu, melalui forum ini, Catur Surya Dharma yakin bahwa Perdamaian Dunia bukanlah sebuah angan-angan ketika seluruh masyarakat dapat membentuk persatuan di atas keberagaman (Unity In Diversity).

“Dunia ini pernah ternoda oleh peperangan yang berkepanjangan yang menyengsarakan hidup jutaan manusia tak berdosa. Tapi biarlah ia menjadi sejarah masa lalu. Saatnya kita generasi muda mengambil peran dalam menuliskan sejarah masa depan yang penuh kedamaian”, ujarnya.

Share This:

Posted in Berita Kampus.